Penulis : SITI NUR AZIZAH (SMPN 1 GAYAM)
Kala gerimis itu datang di halaman penuh cerita, aku termangu, kala sebuah kenangan itu datang, berputar seperti kaset rusak di kepalaku.
Tenang, Indah, Megah
Kita bermain dalam hujan tanpa banyak kata, namun dunia serasa milik kita
langkahmu ringan menari di antara hujan, menapaki rumput yang basah.
Sedang aku diam, menata dalam tenang, tak perlu suara untuk biacara, dia adalah rintik di sudut netraku, yang tak mampu aku lelehkan ke pipiku.
rintik itu terjebak dalam dada dan sungguh sangat meyesakkan
Kini setiap rintik jatuh ke ibu pertiwi, seakan memanggil namamu
Tubuhku bergetar, tak kupunya tangan untuk meraihmu lagi.
Andai waktu bisa kuputar perlahan, akan aku pilih hujan itu berulang-ulang, biar hatiku terluka karena kehilangan, asal bisa kudekap dengan indah dalam kenangan.
Aku kembali menyusuri setiap langkah yang kau tapaki, mencari setiap sudut kota berharap menemukanmu, yang kutemukan hanya setiap genangan kecil yang menutupi jejakmu, ternyata hujan telah menenggelamkanmu.
dalam hujan yang turun dengan sederhana, hati menyimpan rindu, jiwa menggenggam harapan, meski semua terasa seperti bayangan ditengah luasnya lautan
seperti hujan yang jatuh tanpa pernah bertanya, kenangan datang tanpa diminta
derasnya hujan turun membasahi bumi, seakan berbisik kepada jiwa yang begitu menginginkanmu bahwa memilikimu hanyalah khayalan
hujan tidak pernah tahu siapa yg dia basahi, tapi mata dan hati tau siapa yg dia tangisi
Hujan reda, tapi tidak dengan rinduku, namamu melekat di tiap tetes yang jatuh, aku mencintaimu dalam diam yang dalam, dan merindumu…. walau tanpa kau tau.
Di ujung malam, kenangan menyeret bayang-bayangnya, tertunduk di rerumputan yang menampakan bayangan, kilau sang purnama bersambut udara yang lembab
Membawa bayangan mu pergi, aku tersenyum sendu, akankah pagi hadir membawa sebuah jawaban? hanya gemericik dari sisa hujan yang terdengar, seakan berbisik.
Dalam keremangan kilau purnama, kutemukan sunyi yang menemaniku tanpa suara, hening yang melilit menyentuh luka di hati seakan memintanya kembali menganga
Sepi, Dingin, dan Gelap
kutitipkan rindu pada mendung, berharap angin membawanya kepadamu
kini yang tersisa hanya hening dan gelapnya malam menemaniku sepi dan sendiri
Andai saja berpindah hati itu semudah memnjentikan jari, maka dipastikan diriku mendapatkan pengganti, bukan terjebak di dalam labirin kenangan yang berujung melukai.
Mencintaimu…. adalah membiarkanmu bahagia
meski kenyataan nya ku harus menggenggam kehampaan yang menyakitkan
menunggu sepi yang tak pernah kau sadari…

