Lentera Literasi Bojonegoro
  • Beranda
  • Tentang Lentera Literasi
  • Akses Pojok Baca Digital
  • Dari Gentera!
No Result
View All Result
Lentera Literasi Bojonegoro
  • Beranda
  • Tentang Lentera Literasi
  • Akses Pojok Baca Digital
  • Dari Gentera!
No Result
View All Result
Lentera Literasi Bojonegoro

Disaat Senja Mulai Jatuh

Lentera Literasi by Lentera Literasi
2 months ago
in Karya Tulis Gentera
0
Punya Temen Luar Negeri? Seru Banget Loh!
0
SHARES
4
VIEWS
Share on WhatsappShare on XGet QR Code

Penulis : Putri Sintia Sari (SMPN 1 Gayam)

Langit mulai memudar menjadi warna jingga keemasan, pertanda hari akan segera berganti malam. Aris duduk termangu di tepi Danau Sinar, tempat yang selalu menjadi pelarian dari hiruk pikuk kota. Angin sepoi-sepoi membelai rambutnya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Di kejauhan, ia bisa melihat siluet pepohonan yang mulai merapat, menyambut kegelapan yang perlahan menelan cahaya.
Aris menghela napas panjang, menatap permukaan danau yang tenang. Senja selalu menjadi waktu renungan baginya. Hari ini, beban pekerjaan dan rentetan masalah hidup terasa sedikit lebih ringan ketika disaksikan oleh keagungan senja. Wajah-wajah orang-orang yang ia cintai terbayang di setiap kelopak warna yang berpendar.
Ia teringat akan cerita neneknya, bahwa senja adalah waktu di mana langit berdoa bersama bumi, memohon keberkahan untuk malam yang akan datang. Neneknya juga sering bilang, di setiap senja selalu ada keajaiban yang tersembunyi, entah itu kebahagiaan yang baru atau pelajaran berharga yang terbungkus dalam keindahan yang fana.
Tiba-tiba, ia mendengar langkah kaki di belakangnya. “Sendirian saja?” tanya sebuah suara lembut. Aris menoleh, menemukan Rani, teman masa kecilnya, sedang tersenyum padanya.
“Ya, sedang menikmati pemandangan,” jawab Aris. “Kamu sendiri?”
Rani ikut duduk di sampingnya, matanya menyapu langit yang memukau. “Menjemput senja juga. Kebetulan bertemu kamu di sini.”
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman, berbagi setiap pandangan mata mereka yang tak terucap. Setiap percakapan yang terputus di antara mereka terasa penuh dengan kehangatan dan pengertian. Senja menjadi saksi bisu kebersamaan mereka, sebuah pengingat akan persahabatan yang telah terjalin sejak lama.
Ketika warna jingga semakin memudar dan berganti dengan nuansa ungu kebiruan, Aris merasa hatinya dipenuhi kedamaian. Senja bukan lagi sekadar pergantian hari, melainkan sebuah peristiwa yang mengingatkannya pada hal-hal terpenting dalam hidup: cinta, persahabatan, dan keindahan yang sederhana.
Ia tersenyum, tahu bahwa pertemuannya dengan Rani di bawah langit senja kali ini adalah salah satu keajaiban yang diceritakan neneknya. Keajaiban yang tak akan pernah pudar, terlepas dari teriknya matahari atau gelapnya malam yang akan datang.

Tags: smpn 1 gayam
Lentera Literasi

Lentera Literasi

Next Post
Punya Temen Luar Negeri? Seru Banget Loh!

Cita-citaku

Punya Temen Luar Negeri? Seru Banget Loh!

Pentingnya Menjaga Gizi Agar Tidak Stunting

© 2025 Letera Literasi Bojonegro

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Lentera Literasi
  • Akses Pojok Baca Digital

© 2025 Lentera Literasi Bojonegoro