Penulis : Rafa Damar Firmansyah (SMPN 1 Purwosari Bojonegoro)
Ada sebuah pepatah modern yang berbunyi: “Jika layanan digital yang kita pakai gratis, kemungkinan besar kita lah produknya.” Ungkapan ini ada benarnya. Saat kita mengisi data pribadi di aplikasi atau platform online, sesungguhnya kita sedang memberikan sesuatu yang sangat berharga: informasi tentang diri kita sendiri.
Data pribadi bukan hanya soal nama atau alamat. Pola belanja, kebiasaan berselancar di internet, bahkan jam tidur sekalipun, bisa terbaca oleh sistem digital. Informasi ini kemudian dipakai untuk berbagai hal, mulai dari iklan yang muncul di layar, hingga analisis perilaku yang nilainya sangat mahal.
Masalahnya, tidak semua pihak memanfaatkan data dengan cara yang sehat. Ada oknum yang menjual informasi pengguna, ada pula yang menyalahgunakannya untuk aksi penipuan. Banyak orang tidak sadar bahwa mereka sedang “diawasi” dan perlahan kehilangan kendali atas identitas digitalnya.
Bayangkan saja, sesederhana kita menuliskan hobi di media sosial — misalnya futsal — data itu bisa dimanfaatkan untuk membanjiri kita dengan iklan sepatu olahraga, jersey, atau booking lapangan. Sekilas terlihat biasa, tapi kalau informasi seperti ini jatuh ke tangan pihak yang salah, bisa jadi pintu masuk untuk penipuan yang lebih berbahaya.
Lalu, bagaimana kita bisa melindungi diri? Kuncinya ada pada literasi digital yang kritis. Bukan sekadar tahu cara menggunakan aplikasi, tetapi juga paham konsekuensi di balik setiap klik.
Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan:
1. Bijak memberi izin aplikasi. Tidak semua aplikasi perlu akses ke kamera, lokasi, atau daftar kontak. Jika terasa janggal, lebih baik ditolak.
2. Batasi jejak digital. Pikirkan dua kali sebelum mengunggah hal-hal pribadi. Bahkan foto sederhana saat main futsal bersama teman bisa memberi banyak petunjuk bagi orang lain.
3. Gunakan teknologi sebagai perisai. Password kuat, autentikasi ganda, hingga VPN bisa menjadi lapisan tambahan agar data lebih terlindungi.
Selain itu berdasarkan pengalaman pribadi platform digital dapat dimanfaatkan untuk memamerkan hasil karya.seperti karya tulis,karya gambar, karya lukis, dan berbagai karya lainya.dengan harapan kita dapat membangun portofolio di masa depan. siapa tau karya kita akan dibeli orang lain.
Kesadaran ini penting karena pada akhirnya, data pribadi adalah cerminan siapa diri kita. Jika kita menjaganya dengan baik, kita tetap menjadi pemilik penuh identitas digital kita. Sebaliknya, jika sembarangan membiarkan data tersebar, kita bisa saja menjadi “produk” yang dimanfaatkan orang lain tanpa sadar.
Di dunia nyata, kita tidak akan menyerahkan kunci rumah pada orang asing. Maka di dunia digital, jangan pernah menyerahkan data pribadi sembarangan. Ingat: di era informasi, menjaga data sama dengan menjaga masa depan.

