Penulis : Rafa Damar Firmansyah (SMPN 1 Purwosari)
Bagi banyak pelajar Gen Z, pelajaran sejarah sering dianggap “membosankan”. Padahal, di balik tanggal, tokoh, dan peristiwa itu, tersimpan kisah heroik dan inspiratif yang bisa membuka cara pandang kita terhadap masa depan. Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu — sejarah adalah “jejak langkah” yang membentuk siapa kita hari ini.
Coba bayangkan, kalau para pahlawan dulu tidak berani melawan penjajahan, mungkin hari ini kita tidak akan menikmati kemerdekaan. Sosok seperti Soekarno, Hatta, Cut Nyak Dien, hingga Kartini bukan hanya tokoh buku teks, tapi simbol semangat muda yang tidak mau diam menghadapi ketidakadilan. Mereka adalah “influencer” pada zamannya — menyebarkan semangat lewat kata, tindakan, dan keberanian.
Menariknya, banyak nilai dari sejarah yang masih relevan dengan kehidupan Gen Z sekarang. Misalnya, semangat gotong royong di masa perjuangan bisa kita terapkan dalam kolaborasi digital, komunitas sosial, atau gerakan lingkungan. Perlawanan terhadap penjajahan bisa diartikan ulang sebagai perjuangan melawan kemalasan, kebodohan, atau penyebaran hoaks di media sosial. Setiap generasi punya “perang” sendiri — dan Gen Z punya kekuatan besar di ujung jarinya: teknologi, kreativitas, dan keberanian untuk bersuara.
Belajar sejarah seharusnya tidak hanya di kelas, tapi juga melalui video pendek, game edukatif, film, dan media sosial. Sejarah bisa dikemas seru, penuh makna, dan tetap relevan. Karena semakin kita tahu dari mana kita berasal, semakin kita tahu ke mana kita akan melangkah.
Jadi, jangan anggap sejarah itu kuno. Justru dari sejarah kita belajar untuk menjadi generasi yang tangguh, cerdas, dan tidak gampang menyerah. Karena masa depan yang hebat hanya bisa dibangun oleh mereka yang tidak lupa pada masa lalu.


