Penulis : Hanifa Makaila Fakhiroh (SMPN 1 Padangan)
Lahan sempit menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan yang semakin beragam. Contohnya saja di daerah perkotaan yang kurang memungkinkan untuk kegiatan berkebun. Oleh karenanya, muncul tren unik bernama ๐๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ (kegiatan budidaya tanaman di perkotaan) yang sangat populer di kalangan anak muda, atau biasa disebut Gen Z.
Faktanya, pada tahun 2024, lebih dari 60% konsumen Gen Z mengatakan mereka menghabiskan lebih banyak uang untuk berkebun dibandingkan tahun 2023, dan setengahnya mengatakan mereka menghabiskan 50% lebih banyak waktu untuk bercocok tanam dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, 83% anak muda berusia 18 hingga 34 tahun menganggap kegiatan berkebun sebagai “keren”, dan menjadikan hobi yang dulu dianggap ketinggalan zaman ini sebagai pilihan gaya hidup.
Dengan tren ๐๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ, Gen Z yang banyak tinggal di perkotaan mulai memanfaatkan lahan sempit mereka sebagai kawasan hijau pribadi. Mereka mulai menerapkan berbagai metode seperti hidroponik, aquaponik, sampai kebun vertikal untuk menghasilkan bermacam sayuran dan hasil kebun yang lebih berkualitas.
Bagi Gen Z, berkebun memberikan ketenangan tersendiri di tengah tekanan mental yang makin besar saat ini. Oleh sebab itu, Gen Z memperlakukan tanaman sebagai โhewan peliharaan hijauโ yang memberikan manfaat untuk kesejahteraan mental dan koneksi sosial. Tak jarang, banyak dari mereka yang membagikan kegiatan memanen dan pengalaman berkebun di media sosial. Hal itu memicu ketertarikan dari pengguna lain untuk mencoba berkebun, bahkan mampu membangun komunitas berkebun ๐ฐ๐ฏ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฆ.
Terlebih, sebagai generasi yang melek digital, Gen Z memanfaatkan teknologi untuk mempermudah dan meningkatkan pengalaman berkebun mereka. Sehingga tidak diperlukan pelatihan berkebun secara formal. Karena semua informasi yang diperlukan bisa diperoleh melalui media sosial seperti kanal ๐ ๐ฐ๐ถ๐๐ถ๐ฃ๐ฆ dan ๐๐ฏ๐ด๐ต๐ข๐จ๐ณ๐ข๐ฎ maupun aplikasi berkebun. Tak hanya itu, teknologi pintar seperti sensor tanah dan sistem irigasi otomatis memungkinkan mereka merawat tanaman secara efisien tanpa harus khawatir lupa menyiram.
Bahkan, Gen Z beranggapan bahwa berkebun merupakan bentuk ekspresi diri yang bisa disesuaikan dengan estetika pribadi. Karena dalam kegiatan berkebun, Gen Z menerapkan estetika pada pot, patung, dan pencahayaan khusus sehingga mampu menciptakan suasana yang lebih personal dan menarik secara visual.
Tanpa sadar, kegiatan berkebun sederhana yang Gen Z lakukan tak hanya menjadi tren semata. Melainkan upaya kreatif untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Sebab, mereka menanam tanaman lokal dan bunga untuk menarik perhatian lebah dan kupu-kupu sehingga membantu menjaga ekosistem lokal. ๐๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ต๐ช๐ฏ๐จ dari bahan organik yang akan menjadi pupuk bagi tanaman mereka, juga menjadi cara efektif untuk memberikan dampak positif pada planet.
Referensi:
Perschau, K. (2025, 3 Agustus). Gen Z is Digging Gardening. Diambil dari https://www.earthday.org/gen-z-is-digging-gardening/
Daniswara, V. E. (2024, 4 November). Tren Urban Farming yang Semakin Populer di Kalangan Gen Z. Diambil dari https://www.kompasiana.com/valerianenzadaniswara3284/6727bb37ed641513954606b2/tren-urban-farming-yang-semakin-populer-di-kalangan-gen-z

