Penulis : Yuan Amabel Damara L (SMPN 1 Padangan)
Saat ini, transaksi keuangan mengalami peningkatan besar-besaran. Pasalnya masyarakat sudah mulai menggunakan metode pembayaran tanpa uang tunai atau dalam bahasa Inggrisnya adalah cashless. Transformasi ini bukanlah sesuatu yang lahir secara tiba-tiba. Teknologi finansial (fintech), diikuti penetrasi internet dan smartphone, menciptakan ekosistem yang memungkinkan transaksi digital menjadi mudah, cepat, dan aman.
Banyaknya aplikasi dompet digital membuat masyarakat tidak akan kebingungan memilihnya. Contoh aplikasi tersebut adalah GoPay, OVO, Dana, ShopeePay, dan lain sebagainya. Aplikasi-aplikasi ini menumbuhkan transaksi digital yang sangat signifikan, terlebih sejak diterapkannya sistem QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). QRIS adalah standar nasional dalam sistem pembayaran kode QR di Indonesia yang dibuat oleh Bank Indonesia. Tujuan dibuatnya QRIS adalah untuk memudahkan pembayaran non-tunai, dan memungkinkan masyarakat menggunakan satu kode QR untuk berbagai jenis pembayaran.
Manfaat-manfaat yang mengunggulkan uang digital daripada uang fisik tidak lain adalah untuk efisiensi dan kemudahan. Dua tonggak utama inilah yang menjadi pilihan masyarakat untuk beralih ke dompet digital.
Tapi, pembayaran non-tunai ini tetap ada kendalanya seperti peretasan, ketergantungan pada koneksi internet, akses digital yang belum merata, serta masih banyak sektor yang butuh uang tunai. Jadi, uang digital masih belum bisa menggantikan uang fisik secara penuh.
Tak hanya itu masalah yang akan dihadapi dengan adanya dompet digital. Lebih buruknya lagi, masyarakat menjadi konsumtif dan membeli barang-barang yang tak mereka butuhkan. Ini disebabkan karena mudahnya pembayaran hingga mereka tak sadar sudah menghabiskan uang dengan sia-sia. Untuk itu literasi keuangan memegang peran yang sangat krusial. Sebelum itu, sudah tahukah kalian dengan literasi keuangan? Literasi keuangan bukan hanya tentang membaca dan menulis, namun literasi keuangan adalah kemampuan dalam memahami dan menggunakan uang atau pendapatan secara efektif.
Literasi finansial sangat penting karena dapat membantu individu dalam merencanakan masa depan finansial dengan baik, menghindari kesalahan dalam pengelolaan uang, dan mengembangkan kebiasaan yang sehat dalam mengelola keuangan agar tidak berperilaku konsumtif. Terlebih di era digital ini yang memudahkan masyarakat untuk mengakses segalanya.
Contoh penerapan literasi finansial di kehidupan sehari-hari:
1. Menabung
Menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung demi keuangan jangka panjang.
2. Mengatur pengeluaran
Mencatat setiap pengeluaran dengan rinci
4. Berinvestasi
Berinvestasi dengan memikirkan tujuan dan resiko yang ada.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 dari OJK dan BPS, tingkat literasi finansial masyarakat Indonesia mencapai 65,43%. Meskipun angka ini cukup tinggi, tapi banyak masyarakat yang tidak paham dengan literasi finansial dan terkesan boros dengan uangnya. Oleh karena itu, mari kita belajar keuangan untuk kita dan generasi ke depan.
SUMBER:
– OJK. (2024). https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-dan-BPS-Umumkan-Hasil-Survei-Nasional-Literasi-dan-Inklusi-Keuangan-Tahun-2024.aspx
– Wikipedia. Literasi Keuangan. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Literasi_keuangan
– Prudential Indonesia. Literasi Finansial: Pengertian, Manfaat, dan Prinsip Utamanya. Diakses dari https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/literasi-finansial-pengertian-manfaat-dan-prinsip-utamberijala
-Berijalan. (2025). Tren Cashless Society: Mengapa Dompet Fisik Tak Lagi Dibutuhkan? Diakses dari https://berijalan.co.id/article-detail/tren-cashless-society-mengapa-dompet-fisik-tak-lagi-dibutuhkan
-Nasir Ahmad Zargar, Rossanto Dwi Handoyo, Unggul Heiqbaldi, Kabiru Hannafi Ibrahim, Umar Ali, Erika Nafatul Ula. (2023).” Adoption of cashless economy: a review.” Jurnal Manajemen dan Bisnis, Volume 22 (No 2).


