Penulis : Keyta Arofa Muna Salsabila (SMPN 1 Kalitidu)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program unggulan presiden Indonesia memiliki tujuan yang baik yaitu menyediakan makanan sehat dan bergizi untuk anak-anak sekolah serta kelompok yang rentan. Program ini pertama kali diluncurkan pada Januari 2025, dan kini sudah mulai menyebar ke seluruh daerah di Indonesia.
Namun, di tengah jalannya program ini justru mendapat perhatian besar, di temukan beberapa kasus keracunan massal yang diduga karena MBG. Kejadian ini tidak hanya mengguncang dan menurunkan kepercayaan masyarakat Indonesia, tetapi juga menarik minat media internasional.
Beberapa media internasional, termasuk Reuters dan BBC, mengangkat isu keracunan ribuan anak yang diduga terkait dengan program MBG. Sorotan tersebut meningkatkan tekanan kepada pemerintah untuk segera memperbaiki pengelolaan dan sistem supaya program tetap memiliki citra yang baik di tengah masyarakat, juga tidak menimbulkan kekhawatiran yang berlebih.
Tak sedikit para orangtua dari pelajar yang bahkan melarang untuk memakan MBG tersebut. Mereka khawatir, makanan yang disediakan tidak memenuhi standar keamanan pangan dan bahkan menyebabkan keracunan. Dari beberapa pengakuan pelajar, MBG yang diberikan sudah bau atau basi, dan rasa yang aneh terkadang.
Menanggapi semakin menyebarnya kasus tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) yang menjalankan MBG akhirnya memberikan pernyataan. Pihak BGN mengakui adanya kesalahan dalam pelaksanaan di lapangan, terutama mengenai pengelolaan dapur dan distribusi makanan. Ada sekitar 79 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di beberapa daerah yang ditutup sementara untuk dilakukannya evaluasi dan penyelidikan. Pihak BGN berkomitmen untuk menanggung semua biaya perawatan korban.
Hasil penelitian laboratorium menidentifikasi adanya kontaminasi sejumlah bakteri berbahaya dalam sampel makanan MBG, yang menjadi penyebab utama keracunan. Seperti, Eschericia Coli, Staphylococcus Aureus, Salmonella, Bacillus Cereus, serta Coliform, PB, dan Klebsiella yang mempengaruhi kesehatan 5.914 penerima MBG tercatat (menpan.go.id.) Penyimpanan yang tidak memenuhi standar, distribusi yang lama, serta pemakaian bahan makanan yang sudah tidak layak.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam. Pertama, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah mengalami penurunan yang signifikan, yang awalnya menjadi kebanggaan, berubah menjadi kecemasan. Kedua, kurangnya pengawasan menunjukkan perlunya standar keamanan pangan yang lebih ketat. Ketiga, kapasitas ruang dapur dan jumlah koki harus ditingkatkan melalui pelatihan dan sertifikasi. Tanpa adanya perubahan yang jelas serta signifikan, program MBG berisiko tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Peristiwa keracunan program MBG memberikan pelajaran bagi pemerintah dan masyarakat. Program besar yang ditujukan untuk jutaan anak memerlukan sistem pengawasan yang matang, mulai dari bahan baku, pengelolaan bahan, sampai distribusi. Jika dikelola secara efektif, program MBG dapat menjadi investasi signifikan untuk kesehatan generasi yang akan datang. Namun jika diabaikan, program ini justru dapat menjadi bumerang yang merugikan bangsa dan negara.

