Penulis : Alya Nur Khalisah (SMPN 1 Padangan)
Di era serba digital, hampir semua aktivitas kita kudapatkan dan disimpan secara online. Mulai dari update story, membuat konten, hingga berkomentar di dan lain-lain, semuanya jamak tersedia, tersimpan, dan di-screenshot. Disinilah pentingnya etika berdigital. Bukan sekadar nilai kesopanan, tetapi juga terkait reputasi, keamanan, dan masa depan.
Dunia digital adalah ibarat tinta permanen, sekali tercetak dan sangat sulit dihapus. Apa yang kita abiskan dan bagikan hari ini, bisa diakses dan digunakan di masa depan. Karena itu, sebelum kita melakukan kegiatan, akan sangat baik jika kita beristri, dan disarankan untuk tidak bersifat dan merugikan diri sendiri.
Etika digital juga sekadar ketiga, dan tidak menyebarkan hoaks, informasi yang bias, dan disarankan tidak membagikan informasi yang merugikan, orang, diri, dan sabi semua orang.
Sosial media memang luas. Namun, tak jarang, dampak dari setiap tindakan kita menyebar lebih jauh dan cepat dari perkiraan. Berhati-hatilah, karena kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga menjaga setiap ruang digital agar lebih sehat. Setiap orang berhak untuk mengeluarkan pendapatnya, termasuk di media sosial. Namun, pendapat yang disampaikan tidak boleh disertai penghinaan. Komentar pedas boleh, asalkan, disampaikan dengan sopan dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Demikian, sikap respect yang kita tunjukkan sangat baik dan akan membuat kita lebih didengar oleh orang lain. Menghormati sesama di dunia digital bukannya kelemahan melainkan bukannya kedewasaan. Selain itu, menjaga etika juga berarti menghormati privasi. Sebaiknya, informasi pribadi seperti alamat, nomor telepon dan email tidak diungkapkan, karena dapat disalahgunakan dengan sangat mudah. Sebaiknya, untuk menjaga keamanan akun, kita menggunakan password yang rumit, mengaktifkan pengaman ganda, dan tidak mengklik link yang mencurigakan.

