Penulis : Ashifa Dewi Salsabila (SMPN 1 Kalitidu)
Wacana penambahan mata pelajaran baru, kali ini Bahasa Portugis, dalam kurikulum sekolah di Indonesia tengah memantik perdebatan hangat di berbagai kalangan. Usulan ini muncul di tengah desakan untuk memperkuat penguasaan bahasa asing yang relevan dengan kebutuhan global, namun sekaligus menimbulkan kekhawatiran tentang potensi beban akademik bagi siswa dan efektivitas implementasinya.
Latar Belakang Wacana
Wacana ini pertama kali mencuat setelah adanya arahan atau kajian dari lembaga terkait, yang didasarkan pada pertimbangan geopolitik dan historis. Bahasa Portugis, sebagai bahasa resmi dari sembilan negara (termasuk Portugal, Brasil, dan Angola) dan memiliki populasi penutur lebih dari 250 juta di seluruh dunia, dianggap memiliki nilai strategis yang signifikan. Indonesia, yang secara geografis dekat dengan Timor Leste (bekas koloni Portugis) dan memiliki hubungan ekonomi yang berkembang dengan negara-negara Lusofon (penutur Portugis) seperti Brasil, melihat bahasa ini sebagai alat untuk memperluas kerjasama diplomasi dan ekonomi.
Alasan Utama Mendukung (Pro)
Pihak yang mendukung usulan ini berargumen bahwa Bahasa Portugis memberikan keunggulan strategis bagi Indonesia, yaitu sebagai berikut:
-Akses Ekonomi: Membuka peluang bisnis dan perdagangan ke pasar besar seperti Brasil (ekonomi terbesar di Amerika Latin) dan Angola.
-Diplomasi Regional: Memperkuat hubungan dengan negara tetangga, terutama Timor Leste.
-Diversifikasi SDM: Mencetak lulusan yang memiliki kemampuan bahasa unik di luar pilihan umum (Inggris, Mandarin, Jepang), meningkatkan daya saing global.
-Keterkaitan Sejarah: Memahami kembali jejak sejarah dan budaya Nusantara.
Kekhawatiran Utama Menentang (Kontra)
Kritik, terutama dari anggota DPR dan praktisi pendidikan, menyoroti sejumlah masalah implementasi, yaitu:
-Beban Akademik: Adanya kekhawatiran bahwa penambahan mata pelajaran baru akan menambah jam belajar dan membebani siswa, padahal fokus seharusnya adalah memperkuat kemampuan siswa dalam Bahasa Inggris.
-Ketersediaan Guru: Indonesia kekurangan guru Bahasa Portugis yang tersertifikasi. Implementasi nasional akan terbentur masalah SDM dan kualitas pengajaran.
-Prioritas Relevansi: Mengapa Bahasa Portugis yang dipilih, bukan Bahasa Mandarin atau Arab yang dianggap lebih dominan dalam perdagangan dan teknologi global saat ini.
-Kesenjangan Pendidikan: Kebijakan dikhawatirkan hanya efektif di sekolah-sekolah kota besar, memperlebar jurang pendidikan di sekolah yang terletak pada daerah terpencil.
Solusi Pemerintah
Kementerian Pendidikan menyatakan bahwa wacana ini masih dalam tahap kajian mendalam dan tidak akan diterapkan secara tiba-tiba. Rencananya, jika jadi direalisasikan, Bahasa Portugis akan bersifat opsional (pilihan) atau menjadi kegiatan ekstrakurikuler, bukan mata pelajaran wajib, dan akan difokuskan pada wilayah yang memiliki kedekatan strategis.
Penambahan Bahasa Portugis adalah langkah ambisius untuk membuka peluang global, namun keberhasilannya sangat bergantung pada perencanaan yang matang, terutama dalam penyediaan guru berkualitas. Kebijakan ini harus benar-benar menjadi aset bagi siswa, bukan sekadar tambahan beban kurikulum.

