Penulis : SINDI SETIA NINGSIH (SMPN 1 GAYAM)
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau, berdirilah sebuah sekolah sederhana bernama SD Harapan Bangsa. Bangunannya terbuat dari kayu, atapnya sebagian sudah berkarat, dan dindingnya mulai lapuk dimakan waktu. Namun, semangat belajar anak-anak di sana tak pernah pudar.
Salah satu muridnya bernama Rani. Setiap hari ia berjalan kaki sejauh tiga kilometer melewati pematang sawah untuk sampai ke sekolah. Meski lelah, Rani selalu tiba lebih awal. “Aku ingin jadi guru supaya bisa mengajar anak-anak di desaku,” katanya kepada teman-temannya.
Suatu hari, hujan deras mengguyur desa. Atap sekolah bocor, buku-buku basah, dan papan tulis nyaris roboh. Beberapa orang tua murid mulai khawatir dan menyarankan anak-anak belajar di rumah saja sampai kondisi sekolah diperbaiki. Namun, Rani berkata, “Kalau kita berhenti belajar, mimpi kita juga ikut berhenti. Kita bisa belajar di bawah pohon, di rumah Pak Guru, atau di mana saja, asal tetap belajar.”
Kata-kata itu menyentuh hati semua orang. Pak Guru, para orang tua, dan warga desa bergotong royong memperbaiki sekolah seadanya. Mereka menambal atap, mengecat dinding, dan mengeringkan buku-buku. Dalam beberapa hari, sekolah itu kembali bisa digunakan.
Rani dan teman-temannya pun belajar dengan penuh semangat. Mereka sadar, pendidikan bukan hanya tentang gedung megah, tapi tentang kemauan untuk terus mencari ilmu. Rani berjanji pada dirinya sendiri, suatu hari ia akan kembali sebagai guru untuk membangun pendidikan di desanya.

