Penulis : Kirana Kansha Hanifa (SMPN 1 Padangan)
Saat kesusahan menjawab sebuah pertanyaan yang tidak ada di bacaan atau pikiran, apa yang pertama kali akan kita lakukan? bagi sebagian orang tentu akan mencari jawabannya di Google atau yang populer akhir akhir ini dengan bantuan Al, salah satunya chatGPT. Sebagian orang menganggap ini sebagai kemudahan di kala kesulitan. Akan tetapi jika kita telusuri lebih lanjut, kemudahan ini bisa menjadi pisau bermata dua bagi kita semua. Dikarenakan tentunya ada dampak negatif yang tersulubung dari kehadiran teknologi Al ini.
ChatGPT adalah suatu kecerdasan buatan yang dibuat oleh OpenAI. ChatGPT ini diluncur
kan pada tanggal 30 november 2022. Lebih dari 100 juta pengguna sejak kemunculannya dalam dua bulan. Dengan adanya ChatGPT ini kita dapat memecahkan segala permasalahan yang dialami hanya dengan mengetikan kata kunci yang diperlukan dalam ChatGPT. Selain itu kita juga tidak perlu menghabiskan waktu lebih banyak untuk memecahkan sebuah masalah.
Di sisi lain, ada dampak negatif terselubung yang mungkin sebagian orang tidak menyadarinya. Sebagai contohnya adalah ketergantungan akut yang mengakibatkan seseorang tidak bisa menyelesaikan suatu permasalahan tanpa bantuan ChatGPT, Saat ini sedang marak siswa siswi yang bergantung pada ChatGPT untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh bapak/ibu guru. Hal ini menunjukan kemunduran semangat belajar anak karena bergantung pada bantuan ChatGPT. Sehingga siswa malas untuk mencari jawabannya di buku pelajaran.
Baru-baru ini bahkan ada sebuah kasus yang menggemparkan media sosial. Dimana seorang gadis menjadikan ChatGPT sebagai tempat curhat. Seperti yang kita ketahui, bahwasanya ChatGPT akan memberikan suatu jawaban yang selalu memihak kita. Dengan pengaturan ChatGPT yang seperti itu, dapat mendorong seseorang merasa dirinya selalu benar dan tidak mau disalahkan. Sehingga dapat berdampak buruk pada kesehatan psikologis seseorang.
Cara menanggulangi hal tersebut ialah dengan memberikan batas penggunaan ChatGPT. Selain itu kita dapat melatih otak kita menjadi lebih kritis dengan cara memperbanyak bacaan buku seperti buku, jurnal, atau artikel ilmiah. Kita juga bisa menggunakan cara membangun kebiasaan menulis untuk melatih kreativitas kita dalam mengerjakan tugas. Kita harus menyadari bahwa tidak selamanya teknologi memberikan kemudahan dengan cuma-cuma. Bisa saja suatu hari nanti data/informasi yang telah kita sampaikan pada ChatGPT baik itu rahasia ataupun tidak, menjadi bahan konsumsi publik. Oleh sebab itu kita harus bijak dalam menggunakan teknologi. Karena teknologi dapat menjadi pisau bermata dua yang kita tidak tau kapan akan membahayakan diri kita sendiri. Di era gempuran teknologi yang semakin berkembang ini sudah sepatutnya kita menjaga diri dari segala sesuatu yang diselesaikan secara instan. Memastikan diri kita tetap aman dari pengaruh negatif kemajuan teknologi. Jangan biarkan teknologi menjadi raja di dalam hidupmu, jadilah penguasa yang bijak.


