Nama : Franya Karunia Putri (SMPN 1 Purwosari)
Bojonegoro bagian barat memiliki kekayaan seni musik yang kuat, meskipun tidak semua tertuang dalam bentuk lagu-lagu daerah yang terpublikasi secara luas. Musik tradisional yang ada di kawasan ini sering kali terintegrasi dalam berbagai upacara adat dan kesenian rakyat, bukan sebagai entitas tunggal, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pertunjukan utuh. Aliran musik dan tradisi yang dipengaruhi oleh budaya pesisir dan Mataraman dari wilayah perbatasan Jawa Tengah, membuat musik di wilayah barat Bojonegoro memiliki corak khas yang unik dan berbeda dengan daerah lain. Harmoni yang terjalin ini mencerminkan kehidupan masyarakat yang religius, agraris, dan penuh kearifan lokal.
Salah satu bentuk ekspresi musik yang paling menonjol dan memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat adalah iringan musik dalam kesenian Sandur. Pertunjukan Sandur, yang banyak ditemui di wilayah barat Bojonegoro, tidak hanya menyajikan tari dan teater, tetapi juga diperkaya dengan alunan musik gamelan yang khas. Iringan ini terdiri dari perpaduan alat musik seperti gong, kendang, saron, dan bonang, yang diselaraskan untuk mengiringi alur cerita dan gerak tari para pemain. Musik dalam Sandur bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting yang memberikan suasana dan emosi pada pertunjukan, sehingga mampu menghidupkan kembali cerita-cerita rakyat yang sarat pesan moral dan nilai-nilai luhur.
Selain Sandur, budaya musik lain yang juga dikenal luas adalah Musik Oklik atau kenthongan. Meskipun Musik Oklik secara umum dikenal sebagai kesenian khas Bojonegoro, tradisi musik ini juga sangat hidup di desa-desa bagian barat. Musik Oklik dimainkan secara berkelompok dengan alat-alat sederhana yang terbuat dari bambu, menghasilkan irama ritmis yang menarik dan khas. Musik ini sering digunakan sebagai hiburan rakyat, terutama saat bulan Ramadan sebagai pengiring kegiatan sahur, menciptakan suasana kebersamaan dan kegembiraan di masyarakat. Bunyi “oklik-oklik” yang berirama dari alat musik bambu ini menjadi simbol gotong royong dan kekompakan warga, yang tidak hanya menghibur tetapi juga mempererat tali silaturahmi.
Secara keseluruhan, lagu-lagu dan musik di Bojonegoro barat tidak selalu hadir dalam format formal, melainkan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari dan ritual masyarakat. Melalui kesenian Sandur dan Musik Oklik, masyarakat mengekspresikan nilai-nilai budaya mereka, baik itu nilai religius, sosial, maupun historis. Pelestarian tradisi musik ini bukan hanya tentang menjaga warisan leluhur, tetapi juga tentang mempertahankan identitas budaya yang kaya dan unik. Oleh karena itu, harmoni dari langgam dan tradisi di Bojonegoro barat ini perlu terus dijaga dan disebarkan, agar kearifan lokal ini tidak hilang ditelan zaman dan tetap menjadi bagian penting dari identitas kebudayaan Bojonegoro secara keseluruhan.