Penulis : Raihanna Aurellia Salsabilla (SMPN 1 Purwosari Bojonegoro)
Oke gays kali ini kita akan mempelajari tentang cyberbullying atau bisa jadi (perundungan online). Dunia digital, khususnya media sosial, adalah tempat kita berinteraksi, berekspresi, dan belajar, sehingga penting bagi kita untuk menggunakan media sosial dengan bijak dan bertanggung jawab agar kita dapat memanfaatkan berbagai manfaatnya, seperti meningkatkan kemampuan digital, membangun jaringan sosial yang luas, dan memperoleh informasi yang relevan, tanpa terjebak dalam dampak negatif yang mungkin timbul, seperti cyberbullying, penyebaran informasi palsu, dan kehilangan privasi.
Cyberbullying, atau perundungan siber, adalah tindakan intimidasi, ancaman, atau pelecehan yang dilakukan melalui media digital. Berbeda dengan perundungan tradisional yang terjadi secara fisik atau lisan, cyberbullying memanfaatkan teknologi seperti ponsel, komputer, dan media sosial. Perilaku ini bisa dilakukan secara terang-terangan maupun anonim, dan dampaknya bisa sangat menyakitkan bagi korbannya.
Bentuk cyberbullying di antarnya: menyebarkan kebohongan tentang seseorang dan menyebarkannya di grup WhatsApp, Twitter, atau Instagram. Menulis komentar yang mengejek atau menghina di unggahan media sosial orang lain, termasuk “body shaming” (menghina bentuk tubuh). Mengunggah foto atau video pribadi seseorang tanpa izin, dengan tujuan mempermalukan. Mengirim pesan langsung (DM) yang berisi ancaman atau intimidasi, baik secara langsung maupun terselubung. Membuat akun media sosial palsu dengan nama orang lain untuk menyebarkan kebencian atau fitnah.
Perundungan siber bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Jangkauan yang luas: konten yang memalukan atau menyakitkan dapat menyebar dengan cepat ke ribuan orang dalam hitungan detik.juga berdampak jangka panjang karena jejak digital sulit dihilangkan. Korban cyberbullying menjadi merasa malu, cemas, dan putus asa.
Remaja adalah kelompok yang paling rentan terhadap cyberbullying. Di usia ini, mereka sangat bergantung pada penerimaan sosial dan media digital adalah bagian besar dari kehidupan mereka.
Jika kalian adalah korban :
- Jangan membalas komentar atau pesan negatif.
- Simpan bukti: ambil tangkapan layar (screenshot) dari semua komentar, pesan, atau unggahan yang mengancam.
- Blokir pelaku: gunakan fitur blokir yang ada di semua platform media sosial.
- Laporkan: laporkan konten atau akun yang melanggar aturan ke platform digital.
- Bicara: ceritakan apa yang Anda alami kepada orang dewasa yang Anda percaya.
- Peran orang tua dan sekolah:
- Bangun komunikasi terbuka dengan anak-anak.
- Edukasi etika digital: ajarkan anak-anak tentang etika berinternet dan pentingnya menghargai orang lain.
- Deteksi dini: perhatikan perubahan perilaku pada anak.
- Sediakan dukungan: sekolah harus memiliki program anti-bullying dan konselor yang siap membantu siswa.
Dengan kerja sama antara individu, keluarga, sekolah, dan platform digital, kita bisa menciptakan lingkungan online yang lebih aman, positif, dan penuh rasa hormat. Namun, terkadang media sosial bisa menjadi tempat yang tidak aman karena adanya cyberbullying, yang dapat menyebabkan dampak negatif seperti stres, kecemasan, dan depresi pada individu yang mengalaminya, sehingga penting untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan dalam menggunakan platform digital serta membangun lingkungan online yang lebih positif dan mendukung.


