Penulis : Mochamad Aby Rais Pratama (SMPN 1 Purwosari Bojonegoro)
Ketika mendengar istilah FOMO (Fear of Missing Out), banyak orang langsung terbayang pada media sosial: liburan teman, tren fashion, atau tempat nongkrong kekinian yang ramai dibicarakan. Namun, ada satu bentuk FOMO lain yang diam-diam tumbuh di era digital, yaitu FOMO pengetahuan—ketakutan merasa tertinggal dalam arus informasi dan wawasan.
Fenomena ini muncul karena internet menyediakan banjir informasi tanpa henti. Setiap hari ada tren teknologi baru, berita viral, podcast edukatif, hingga kursus online yang seolah wajib diikuti agar tidak dianggap “kurang update”. Alhasil, banyak orang merasa tertekan untuk selalu tahu dan ikut membicarakan topik terbaru, mulai dari kecerdasan buatan, tren investasi, sampai istilah-istilah populer yang muncul di platform digital.
Sekilas, FOMO pengetahuan tampak positif karena mendorong rasa ingin tahu. Namun, jika tidak dikelola, hal ini bisa berbalik menjadi beban. Orang jadi terburu-buru menyerap informasi tanpa sempat mencerna, lalu merasa minder ketika tidak memahami pembahasan yang sedang viral. Akhirnya, alih-alih bertambah wawasan, justru muncul kelelahan mental karena terus merasa tertinggal.
Di sinilah pentingnya menemukan keseimbangan, salah satunya melalui hobi. Misalnya, banyak orang yang mengatasi tekanan digital dengan bermain musik. Saat memetik gitar atau menekan tuts piano, fokus berpindah dari layar ke melodi. Musik menjadi ruang jeda yang membantu otak beristirahat dari banjir informasi, sekaligus mengingatkan bahwa hidup tidak melulu tentang mengikuti tren, melainkan juga tentang menikmati proses.
Bagaimana cara mengatasi FOMO pengetahuan? Pertama, pilih fokus. Tidak semua informasi harus kita kuasai. Tentukan bidang yang relevan dengan kebutuhan atau minat pribadi, lalu dalami secara konsisten. Kedua, gunakan prinsip literasi digital kritis: tanyakan apakah informasi tersebut valid, bermanfaat, dan benar-benar perlu diketahui. Ketiga, beri ruang untuk jeda digital. Mengisi waktu dengan hobi seperti musik bisa menjadi salah satu cara untuk menenangkan pikiran sekaligus menjaga kreativitas tetap hidup.
FOMO pengetahuan adalah cermin betapa dunia digital membuat kita haus akan informasi. Namun, literasi digital mengajarkan bahwa kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Tidak masalah jika kita tidak tahu semua hal yang sedang viral; yang lebih penting adalah bagaimana kita memahami dan mengolah informasi yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan.
Dengan begitu, kita tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga pribadi yang bijak dalam menghadapi derasnya arus pengetahuan di era digital—dan tetap punya ruang untuk menyalurkan hobi, seperti musik, yang membuat hidup terasa lebih seimbang.


