Di tengah hutan lebat di Jambi, di antara aliran sungai dan suara rimba yang khas, ada sosok peempuan yang hadir membawa cahaya pengetahuan. Namanya Saur Marlina Manurung, lebih dikenal sebagai Butet Manurung. Ia bukan tokoh dongeng, melainkan sosok nyata yang memilih meninggalkan kenyamanan kota demi memperjuangkan hal yang ia yakini yaitu bahwa pendidikan adalah hak semua orang, termasuk mereka yang hidup jauh dari jangkauan sistem pendidikan formal.
Butet adalah seorang antropolog. Ia mengenal dunia akademik berpikir kritis dan punya jalan karier yang mapan di perkotaan. Tapi hatinya tak tenang saat melihat ketimpangan yang nyata di negeri ini, terutama dalam hal akses pendidikan. Ketika sebagian anak bisa belajar dengan fasilitas lengkap, di sudut lain Indonesia, ada anak-anak yang bahkan tidak tahu huruf.
Tahun 1999 menjadi titik balik hidupnya. Butet memutuskan untuk tinggal dan hidup bersama Suku Anak Dalam, komunitas adat yang hidup nomaden di pedalaman hutan Jambi. Mereka bukan tidak mau belajar, tapi selama ini didekati dengan cara yang salah, dengan sistem kaku, seragam sekolah, bangku-bangku kelas, dan kurikulum yang tak mereka pahami. Butet memilih pendekatan berbeda. Ia mendekati dengan hati, memahami budaya mereka, hidup seperti mereka, dan mulai memperkenalkan baca-tulis lewat hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka.
Dari pengalaman inilah lahir konsep Sokola Rimba, sebuah model pendidikan alternatif yang fleksibel, kontekstual, dan menghormati nilai-nilai lokal. Bukan hanya mengajarkan huruf dan angka, tapi juga bagaimana pendidikan bisa memperkuat identitas, memberi keberdayaan, dan tidak mencabut akar budaya. Sokola berarti “sekolah”, tapi tidak selalu dengan tembok dan papan tulis. Kadang di bawah pohon, di pinggir sungai, atau saat mereka beristirahat setelah berburu.
Kisah Butet adalah bukti bahwa literasi bukan sekadar angka statistik atau program pemerintah. Literasi adalah hak dasar, dan memperjuangkannya adalah bentuk tertinggi dari kemanusiaan. Ia menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus menyeragamkan, tapi bisa membebaskan. Literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca buku, tapi juga membaca dunia, memahami realitas, dan membangun masa depan dengan sadar.
Perjuangan Butet tidak selalu mudah. Ia harus menghadapi tantangan budaya, birokrasi, bahkan ancaman keselamatan. Tapi cintanya pada dunia pendidikan dan rasa hormatnya pada masyarakat adat membuatnya terus melangkah. Ia tak ingin mereka hanya jadi objek pembangunan, tapi jadi subjek yang tahu hak dan bisa menentukan hidupnya sendiri.
Wanita kelahiran 21 Februari itu mengajarkan kita bahwa literasi adalah jembatan antara tradisi dan masa depan. “Saya tidak sedang mengajar membaca. Saya sedang mengajar anak-anak untuk berpikir.” ujarnya. Kutipan ini bukan sekedar teori tapi filosofi mendalam yang dipegang Butet selama menjalankan misi Sokola Rimba. Ia percaya bahwa pendidikan bukan soal mencetak anak-anak pintar yang bisa mengerjakan ujian, melainkan membentuk manusia yang mampu memahami hidup, membuat pilihan, dan mempertahankan nilai yang diyakininya. Inilah yang membuat pendekatannya bisa diterima bahkan oleh penduduk Suku Anak Dalam.
Kini, Sokola Rimba bukan hanya ada di Jambi. Model pendidikan yang dikembangkan Butet telah menyebar ke berbagai wilayah Indonesia seperti di Aceh, Flores, Halmahera, hingga Papua. Setiap tempat dengan caranya sendiri, namun tetap mengusung semangat yang sama yaitu menjangkau yang terpinggirkan, menghargai yang berbeda, dan membawa literasi ke tempat yang sebelumnya dianggap tak mungkin dijangkau.
Kisah Butet menginspirasi kita untuk ikut bergerak. Kita mungkin tidak tinggal di rimba, tapi ada banyak gelap di sekitar kita yang bisa kita bantu terangi melalui literasi. Entah dengan menjadi relawan baca, mendonasikan buku, membimbing adik-adik di sekitar rumah, atau menyebarkan semangat literasi lewat media sosial, dan tentunya dengan turut berpartisipasi aktif dalam Lentera Literasi, setiap usaha punya arti.

