Penulis : Franya Karunia Putri (SMPN 1 Purwosari)
Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur tak hanya dikenal dengan kekayaan alamnya, tetapi juga warisan seni budayanya yang memukau, terwujud dalam dua tarian tradisional yang kontras seperti Tari Kayangan Api dan Tari Thengul. Kedua tarian ini menceritakan kisah, simbolisme, dan upaya pelestarian budaya daerah dengan cara yang berbeda.
Tari Kayangan Api: Manifestasi Kekuatan dan Api Abadi
Tari Kayangan Api merupakan tarian yang secara mendalam terikat pada fenomena alam dan mitologi lokal. Tarian tradisional ini terinspirasi dari legenda lokal dan keberadaan api abadi yang tak pernah padam di Kayangan Api. Gerakannya dirancang untuk melambangkan kekuatan, keberanian, dan keanggunan, secara kinetik menirukan dinamika nyala api yang dinamis dan bergelora.
Sejak awal, tarian ini diciptakan dengan fungsi ganda sebagai media pelestarian budaya, sarana edukasi, dan instrumen penting dalam promosi pariwisata Bojonegoro. Tarian ini juga dapat dipentaskan dalam berbagai upacara adat. Dalam perkembangannya, simbolisme tarian semakin mendalam; muncul variasi seperti Tari Api Kayangan Merah Putih yang menggunakan kain merah menyala sebagai simbol semangat kebangsaan masyarakat Bojonegoro yang berkobar untuk Indonesia. Kehadiran tarian ini diakui secara nasional, terbukti dari pementasan kolosalnya yang pernah memecahkan rekor MURI dengan menampilkan penari dalam jumlah terbanyak. Penampilan berskala besar ini sering melibatkan banyak penari, terutama pelajar, dalam acara-acara besar, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai media seni dalam konteks pendidikan dan ekonomi kreatif.
Tari Thengul: Menghidupkan Kembali Semangat Wayang yang Jenaka
Berbeda dengan Kayangan Api yang mengambil inspirasi dari alam dan mitos, Tari Thengul memiliki akar yang kuat pada kesenian teater tradisional. Tarian ini adalah kreasi yang terinspirasi dari Wayang Thengul, sebuah kesenian khas Bojonegoro yang kala itu hampir punah. Tarian ini diciptakan secara spesifik pada tahun 1992 sebagai upaya intervensi kultural untuk menghidupkan kembali Wayang Thengul.
Ciri khas gerakan tari ini secara jelas menirukan Wayang Thengul, ditandai dengan gerakan yang cenderung kaku, unik, dan sederhana, layaknya boneka. Keunikan visualnya diperkuat oleh penarinya yang menampilkan ekspresi wajah yang kocak dan jenaka dengan riasan yang menyerupai boneka. Pertunjukan Tari Thengul diiringi musik dan gendang dengan nada naik turun yang khas, menciptakan suasana yang meriah. Tarian ini kini sering dipentaskan sebagai tari penyambutan atau selamat datang. Demi memastikan keberlanjutannya, Tari Thengul terus dilestarikan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan pengembangan sanggar tari di daerah, seperti Kampoeng Thengul, menjadikannya bukti adaptasi budaya agar tetap diminati dan tidak punah.
Kontras yang Memperkaya Identitas
Perbandingan antara kedua tarian ini menunjukkan dua strategi pelestarian budaya yang efektif di Bojonegoro. Tari Kayangan Api berfungsi sebagai simbol narasi besar yang berfokus pada kekuatan dan daya tarik pariwisata, dengan gerakan yang dinamis dan anggun. Sebaliknya, Tari Thengul merupakan upaya pelestarian yang berfokus ke dalam, menggunakan gerakan yang kaku dan jenaka untuk merevitalisasi Wayang Thengul. Dari inspirasi legenda api abadi hingga kesenian wayang boneka, kedua tarian ini menegaskan keragaman dan kekayaan warisan seni Bojonegoro.
Dengan demikian, kedua tarian ini menunjukkan dua strategi pelestarian budaya yang kontras namun sama-sama vital: Tari Kayangan Api berfungsi sebagai simbol narasi besar yang berfokus pada kekuatan dan daya tarik pariwisata, dengan gerakan yang dinamis dan anggun. Sebaliknya, Tari Thengul merupakan upaya pelestarian yang berfokus ke dalam, menggunakan gerakan yang kaku dan jenaka untuk merevitalisasi Wayang Thengul yang hampir hilang. Kedua tarian tersebut, dari inspirasi api abadi hingga kesenian wayang boneka, bersama-sama menegaskan keragaman dan kekayaan warisan seni Bojonegoro.

