Penulis : Wardassalisa Ambalika (SMPN 1 Gayam)
Sekarang banyak ya? Atau lagi musimnya menghina orang seenaknya? Body shaming namanya.
Di media sosial, sering banget kita lihat orang yang mungkin punya kekurangan, memberanikan diri bikin video dengan percaya diri, tapi malah dibalas komentar negatif. Ada yang mengejek fisik, warna kulit, bahkan kondisi tubuh. Padahal, mereka juga manusia yang punya perasaan. Sayangnya, masih banyak orang yang lupa hal sederhana ini.
Sudah banyak video yang aku lihat, mulai dari anak kecil, remaja, sampai kreator besar. Mereka hanya ingin mengekspresikan diri atau sekadar menghibur, tapi malah jadi bahan ejekan. Kolom komentar dipenuhi hinaan fisik, contohnya: “jelek, gendut, hitam” dan sebagainya. Nah, inilah yang disebut body shaming—salah satu bentuk cyberbullying yang makin marak di dunia maya.
Tahukah kalian? Komentar yang kalian ketik mungkin terlihat sepele. Tapi pernahkah kalian bayangkan, saat orang yang kalian hina membaca komentar itu? Hatinya bisa terasa hancur, rasa percaya dirinya perlahan hilang, bahkan bisa merasa tidak berharga. Kata-kata sederhana bisa berubah jadi pisau tajam yang melukai mental seseorang.
Inilah kenapa literasi digital itu penting. Bukan cuma soal bisa pakai internet, tapi juga bagaimana menjaga etika, menghargai orang lain, dan sadar kalau setiap kalimat yang kita tulis punya dampak, entah itu positif atau negatif. Jari kita ini bisa jadi alat untuk memberi semangat, bukan untuk menyakiti.
Misalnya, daripada menulis:
“Gendut banget sih kamu ahahaha”
Lebih baik tulis:
“Wahh keren banget yaa kamu bisa percaya diri bikin video, patut banget dihargai.”
Kalau pun ingin memberi saran, gunakanlah bahasa yang baik dan membangun. Bedakan antara menghina dan memberi kritik positif.
Menghina:
• “Kulitnya hitam bgt pls, ga pernah perawatan ya?”
• “Gendut bgt kak, makannya sebaskom ya? Minimal olahraga lah”
Memberi saran:
• “Kak, coba pakai skincare/bodycare dari G***, itu bagus bgt loh buat bantu mencerahkan kulit.”
• “Kak, coba atur pola makan yaa? Memang susah sih, tapi semangat terus! Sering olahraga + minum M*** bisa bantu turunin berat badan kok.”
Beda kan rasanya? Lebih enak dibaca, nggak bikin sakit hati, dan tetap ada pesan positif. Itu bukti kalau kata-kata baik sebenarnya jauh lebih kuat daripada hinaan.
Sebagai generasi muda, kita harus ingat: jejak digital itu abadi. Apa yang kita tulis hari ini bisa memengaruhi bagaimana orang lain melihat kita nanti. Jangan biarkan komentar buruk jadi jejak yang kita sesali.
Mari sama-sama jadikan media sosial ruang yang aman, sehat, dan menyenangkan. Tempat untuk belajar, berbagi, dan tumbuh bersama. Hentikan body shaming, karena setiap orang berhak dihargai, apapun fisiknya.
Salam kebaikan bersosial digital, semuanyaaa~


