Penulis : Wardassalisa Ambalika (SMPN 1 Gayam)
Siapa sih yang belum tahu berita-berita terbaru? dari media sosial? pasti banyak orang yang tahu akan berita terbaru itu.
Nah, pasti kalian sudah tahu kan? beberapa hari terakhir ini, Indonesia diguncang kabar duka dari Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo.
Musala yang seharusnya jadi tempat beribadah, justru ambruk ketika sedang dipakai santri untuk melaksanakan salat Ashar. Hanya dalam hitungan detik, suasana yang awalnya para santri hening, khusyuk melaksanakan salat ashar tersebut? malah berubah menjadi panik dan penuh ke khawatiran. Puluhan santri berlarian, sebagian terjebak di dalam reruntuhan, sebagian banyak juga yang selamat, walaupun ada yang mengalami luka kecil maupun besar, tapi belasan santri lainnya dan mungkin berita yang belum pasti ini menyatakan sampai puluhan santri sudah dinyatakan meninggal dunia
Di balik itu semua, ada satu kisah yang membuat hati siapa pun pasti akan terenyuh. Ada seorang santri sebut saja F, ditemukan sudah tidak bernyawa dalam keadaan sujud
Teman-temannya mengatakan bahwa dia yang dari awal tertimpa reruntuhan untuk melindungi para teman-temannya yang lain masih bisa melakukan salat 5 waktu. Saat itu temannya, sebut saja H, dia mengajak si F untuk melaksanakan salat Isya awalnya si F masih merespon dan mengiyakan, tetapi saat menginjak waktu salat Shubuh, si H mengajaknya untuk melaksanakan salat lagi dia sudah dinyatakan meninggal dunia, karena dia sudah tidak ada respon dan gerakan apapun
Lantas, kepergiannya begitu mendadak, tapi sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi semua orang. Ia berpulang dalam keadaan terbaik bagi seorang umat muslim, di tengah doa-doa dan ibadahnya.
Cerita ini mengingatkan sekaligus memberi tahu kepada kita bahwa, mereka adalah anak-anak muda dengan harapan, mimpi, dan keluarga yang menunggu di rumah. Duka ini nyata, tentu luka ini meninggalkan jejak panjang bagi orang-orang yang mengenalnya ataupun terdekatnya.
Dari sini, tragedi tentang Al-Khoziny juga cepat sekali menyebar ke para media sosial. Foto, video, hingga kabar simpang siur muncul di berbagai platform online, contohnya TikTok, Instagram, Facebook dan masih banyak lagi platform online lainnya. Dari itu semua, banyak orang yang menulis doa, mengutarakan pendapat, perasaan dan masih banyak lagi. Tetapi ada juga yang asal berkomentar, bahkan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Padahal, di balik layar itu semua, ada keluarga korban yang sedang berduka.
Inilah yang membuat kita perlu mengingat kembali pentingnya literasi digital:
“Bijaklah sebelum mengetik dan membagikan sesuatu”. Pastikan informasi benar-benar valid, dan gunakan kata-kata yang menenangkan hati, bukan yang menambah luka. Entah dalam bentuk apapun itu.
Tapi lebih dari semua itu, kita sebagai generasi muda bisa belajar hal penting: bahwa hidup ini tak pernah bisa kita tebak bagaimana akhirnya, dan juga jejak digital kita pasti akan selalu ada di setiap abadnya, dan mungkin di tahun kedepan, teknologi akan semakin canggih lagi. Maka dari itu, Mari kita gunakan kesempatan ini untuk menyebarkan kebaikan, baik dalam ucapan maupun tulisan.
Dari tragedi Al-Khoziny ini? bukanlah hanya sekadar kabar duka, melainkan juga pengingat bagi kita semua. Di balik runtuhnya bangunan, ada doa yang terucap, ada jiwa yang kembali pada Sang Pencipta, dan ada pelajaran berharga untuk lebih berhati-hati serta lebih bijak dalam menjalani hidup, termasuk saat bermedia sosial.
#JanganLupakanEmpatiNyaDalamBermediaSosialYaaTemann


