Penulis : Yuan Amabel Damara L (SMPN 1 Padangan)
Sejarah adalah suatu kejadian yang terjadi di masa lalu yang benar-benar terjadi dan ditulis secara berurutan. Sejarah digunakan sebagai bahan pembelajaran agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama dan tetap mengingat peristiwa-peristiwa penting yang tertuang di dalamnya. Tapi faktanya, banyak sejarah yang disembunyikan bahkan dihilangkan karena beberapa alasan. Alasan-alasan tersebut tidak lain adalah karena kepentingan politik untuk mempertahankan kekuasaan, kurangnya bukti fisik, dan untuk menutupi fakta yang memalukan. Tapi banyak sejarah yang dihilangkan hanya karena keinginan para penguasa politik atau dominasi dari beberapa pihak, contohnya adalah sejarah tentang pahlawan perempuan di Indonesia.
Pahlawan perempuan yang kita pelajari saat sekolah pasti hanya beberapa, seperti RA Kartini, Cut Nyak Dhien, dan Fatmawati. Namun sebenarnya, banyak pahlawan perempuan yang perannya sangat penting untuk kemerdekaan Indonesia. Mereka tidak hanya menghunuskan pedang, tetapi banyak di antara mereka yang mengangkat suara dengan lantang agar Indonesia merdeka. Salah satu contohnya adalah Rohana Kudus, sang wartawati perempuan pertama di Indonesia.
Roehana Koeddoes atau kerap dipanggil Rohana Kudus. Ia lahir pada tanggal 20 December 1884 di desa (nagari) Koto Gadang, Kabupaten Agam, di pedalaman Sumatra Barat, Hindia Belanda. Saat lahir, ia diberi nama Siti Ruhana. Siti Ruhana memiliki seorang ayah yang bernama Mohammad Rasjad Maharadja Soetan, ia berprofesi sebagai kepala jaksa Karesidenan Jambi dan kemudian Medan. Ia merupakan saudara tiri Sutan Sjahrir, dan sepupu Agus Salim, baik intelektual dan politikus penting dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Dia juga bibi (mak tuo) penyair Indonesia Chairil Anwar. Ruhana tidak pernah mengeyam pendidikan formal, meskipun begitu, ia adalah perempuan yang cerdas. Dalam usianya yang masih sangat muda Rohana sudah bisa menulis dan membaca, serta ia pandai berbahasa Belanda. Tak hanya bahasa Belanda, ia pula belajar abjad Arab, Latin, dan Arab-Melayu. Ketika ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang, Ruhana bertetangga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat Belanda itu Rohana belajar menjahit, menyulam, merajut, dan merenda yang merupakan keahlian perempuan Belanda. Disini ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang berisi berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa yang sangat digemari Ruhana.
Rohana ingin sekali membantu para perempuan untuk mengenyam pendidikan yang setara dengan laki-laki. Oleh karena itu, dengan tekad dan semangatnya, ia akhirnya pulang ke kampung. Pada tahun 1908, di usianya yang menginjak 24 tahun, Rohana menikah dengan Abdoel Koeddoes. Abdoel Koeddoes mendukung usaha istrinya untuk mendidik perempuan. Pada Februari 1911, Rohana mendirikan sebuah perkumpulan pendidikan perempuan yang bernama Kerajinan Amai Setia. Ia mengajarkan keterampilan dan keterampilan di luar tugas rumah tangga biasa, serta membaca tulisan Jawi dan Latin serta mengelola rumah tangga. Rohana berhasil merekrut sekitar enam puluh siswi di sana.
Pada 10 Juli 1912, Rohana mendirikan surat kabar perempuan bernama Sunting
Melayu. Susunan redaksi mulai dari pemimpin redaksi, redaktur, dan penulis semuanya perempuan. Karena karyanya yang hebat, Rohana mendapatkan gelar pelopor wartawan perempuan Sumatera Barat dan perintis pers oleh pemerintah atas jasanya dalam memperjuangkan bangsa melalui dunia jurnalistik.
Ancaman demi ancaman menghantui kehidupan Rohana karena ia adalah seorang pendiri media yang anti terhadap kaum Kolonial atau Belanda. Tulisan-tulisan yang diterbitkan dan disebarluaskan oleh Rohana sangat keras melawan Belanda, oleh karena itu Belanda tak ingin memberi dukungan kepada Rohana. Rohana pun tak gentar memperjuangkan hak-hak perempuan melalui media massa, pendidikan, hingga di bidang ekonomi. Suara demi suara yang dikeluarkan oleh Rohana melalui media tulis membuat banyak perempuan mulai mendapatkan haknya. Rohana pun diberi penghargaan besar, yaitu “Wartawati Pertama Indonesia”. Penghargaan ini diberikan oleh pemerintah Sumatra Barat pada tanggal 17 Agustus 1974.
Banyak hak yang diperjuangkan oleh Rohana Kudus, namun sayangnya namanya sangat asing bagi telinga generasi muda. Sepatutnya pahlawan perempuan di Indonesia lebih dihargai dan dikenang dalam buku sejarah, agar para generasi muda tahu dan meniru perjuangannya untuk terus bersuara.
SUMBER:
– Agustiningsih, Ema Pratama. (2019). “PERGERAKAN PEREMPUAN DI MINANGKABAU: KIPRAH ROHANA
KUDUS DALAM NASIONALISME TAHUN 1912-1972″.Jurnal Ilmu Humaniora, Volume 03 (No. 02)
-Wikipedia. Roehana Koeddoes. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Roehana_Koeddoes.
-detikedu. (2023). Sosok Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia. Diakses dari Sosok Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia https://share.google/jpBOu2ZXiMtWbzS0r

