Penulis : FRANYA KARUNIA PUTRI (SMPN PURWOSARI)
Di tengah gempuran teknologi dan gim daring, jejak permainan tradisional di wilayah barat Kabupaten Bojonegoro, yang meliputi kecamatan-kecamatan seperti Padangan, Kasiman, dan sekitarnya, masih tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Permainan-permainan ini bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan cerminan kekompakan, kreativitas, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Dari lapangan desa hingga halaman rumah, anak-anak di masa lampau menjalin kebersamaan melalui gerak dan tawa, menciptakan ikatan sosial yang kuat dengan cara yang sederhana.
Kekompakan ini begitu terasa dalam permainan seperti Gobak Sodor atau Bentengan, yang mengandalkan strategi dan kerja sama tim untuk meraih kemenangan. Anak-anak dari berbagai usia berkumpul, membentuk garis pertahanan dan saling mengandalkan untuk menjebak lawan, mengajarkan mereka pentingnya saling percaya dan berkoordinasi. Meski tampak sederhana, permainan ini adalah simulasi mini dari kehidupan sosial, di mana keberhasilan sebuah kelompok ditentukan oleh kekompakan anggotanya. Sinergi semacam ini menjadi benang merah yang mengikat satu permainan ke permainan lain, menciptakan lingkaran kebersamaan yang tak pernah putus.
Berbeda dengan permainan tim, ada pula permainan yang menguji ketangkasan dan konsentrasi individu, tetapi tetap dimainkan bersama-sama, seperti Gundu atau kelereng. Dengan ketenangan dan fokus, para pemain mencoba membidik kelereng lawan, sebuah proses yang melatih ketelitian dan kesabaran. Meski dimainkan secara individu, permainan ini juga menjadi ajang interaksi dan tawa riang, di mana para pemain saling menggoda atau bersorak memberikan semangat.
Hubungan sosial yang terjalin saat bermain kelereng ini menjadi bukti bahwa persaingan tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan, melainkan bisa menjadi sarana untuk mempererat pertemanan.Tidak hanya mengandalkan benda-benda kecil, permainan tradisional di wilayah Bojonegoro barat juga memanfaatkan sumber daya alam di sekitar, seperti dalam permainan Egrang. Dengan bermodalkan sepasang batang bambu, para pemain menguji keseimbangan dan kelincahan mereka, berlomba berjalan lebih cepat dari lawan.
Permainan ini tidak hanya melatih fisik, tetapi juga mengajarkan tentang ketekunan dan semangat juang untuk mengatasi tantangan. Begitu juga dengan permainan Lompat Tali yang menggunakan karet gelang, anak-anak menciptakan tali panjang, lalu melompatinya bersama-sama, menciptakan ritme yang harmonis. Melalui permainan-permainan sederhana ini, nilai-nilai luhur tentang kerja keras, kesabaran, dan kegembiraan kolektif terus ditanamkan pada generasi muda di Bojonegoro barat.
Maka tak heran, banyak pihak, termasuk pemerintah daerah, berupaya membangkitkan kembali permainan tradisional ini, melihatnya sebagai cara efektif untuk melestarikan budaya dan mengurangi ketergantungan anak-anak pada gawai. Upaya ini, yang didukung oleh berbagai acara dan festival, bertujuan agar tradisi berharga ini tidak lekang oleh waktu, memastikan bahwa tawa riang anak-anak di halaman desa akan terus terdengar, membawa semangat masa lalu ke masa kini, dan menjadikannya warisan berharga untuk generasi yang akan datang. Dengan demikian, permainan tradisional di Bojonegoro barat akan terus hidup sebagai pengingat akan pentingnya kebersamaan dan kegembiraan yang lahir dari kesederhanaan.

