Penulis : FRANYA KARUNIA PUTRI (SMPN 1 PURWOSARI)
Wilayah barat Kabupaten Bojonegoro, yang membentang di sekitar Kecamatan Padangan, Kasiman, hingga perbatasan dengan Jawa Tengah, menyimpan kekayaan budaya yang unik dan memesona. Budaya di daerah ini terbentuk dari perpaduan tradisi Jawa yang kental, nilai-nilai agraris, serta jejak sejarah yang kuat, menciptakan identitas khas yang membedakannya dari wilayah Bojonegoro lainnya. Unsur-unsur budaya ini terjalin erat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari ritual adat hingga kesenian rakyat, menjadikannya sebuah warisan yang hidup dan terus dilestarikan secara turun-temurun.
Salah satu manifestasi budaya yang paling menonjol adalah tradisi Sedekah Bumi. Di berbagai desa di Bojonegoro barat, tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah dan untuk memohon keselamatan. Ritual ini biasanya diselenggarakan setelah masa panen, di mana seluruh warga desa berkumpul di tempat yang dianggap sakral, seperti punden atau makam leluhur desa, membawa aneka makanan khas untuk dinikmati bersama. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan dan adat, tetapi juga mempererat tali silaturahmi dan gotong royong antarwarga, memperkuat rasa kebersamaan yang menjadi fondasi masyarakat pedesaan.
Selain upacara adat, kesenian rakyat juga berkembang subur di wilayah ini, salah satunya adalah Sandur. Meskipun sandur dapat ditemukan di berbagai wilayah Bojonegoro, pementasan di bagian barat memiliki corak tersendiri yang dipengaruhi oleh budaya lokal. Kesenian ini memadukan unsur cerita, tari, karawitan, dan bahkan akrobatik, menjadikannya pertunjukan yang dinamis dan menghibur. Sandur sering dipentaskan dalam acara-acara hajatan atau perayaan desa, yang tidak hanya menghibur penonton tetapi juga mengandung pesan-pesan moral dan kearifan lokal yang disampaikan melalui dialog dan gerak para pemainnya.
Jejak sejarah juga meninggalkan warisan berharga, seperti yang ditemukan di desa-desa di sekitar wilayah barat. Misalnya, keberadaan Petilasan Angling Dharma di Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu, yang letaknya tidak jauh dari perbatasan wilayah barat, menjadi bukti bahwa kisah-kisah legenda dan peninggalan bersejarah masih melekat kuat dalam ingatan masyarakat.Petilasan ini menjadi situs ziarah dan tempat dilakukannya ritual tertentu, yang menunjukkan bagaimana sejarah dan kepercayaan lokal terjalin menjadi satu kesatuan budaya. Situs bersejarah seperti ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menjadi pengingat akan akar budaya yang mendalam dari masyarakat setempat.
Dengan demikian, budaya Bojonegoro barat adalah mozaik yang kaya, terbentang dari ritual kuno seperti Sedekah Bumi, pertunjukan seni rakyat yang penuh makna seperti Sandur, hingga jejak-jejak sejarah yang masih terawat. Semua elemen ini saling melengkapi, membentuk identitas yang kuat dan resilien di tengah perubahan zaman. Melalui pelestarian tradisi dan kesenian ini, masyarakat Bojonegoro barat memastikan bahwa nilai-nilai luhur dan kearifan lokal akan terus hidup dan diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya, menjaga agar keunikan budaya mereka tetap lestari dan relevan.


